Membangun Kesadaran Sosial Melalui Teater Rakyat

Yogyakarta – Pada 29 Juli hingga 2 Agustus 2018, tim SPEAK Indonesia mendalami teater rakyat dan media rakyat lainnya di SAV Puskat Sinduarjo, Yogyakarta. Difasilitasi oleh tim SAV Puskat, lokalatih ini bertujuan untuk menyegarkan dan mengembangkan pemahaman tim SPEAK mengenai community-based communication. Lokalatih ini juga menyiapkan tim SPEAK untuk menjadi pendamping teater rakyat dalam kegiatan yang akan datang, salah satunya advokasi STBM di Lampung.

 

Layaknya kelompok teater sungguhan, tim SPEAK diajak untuk mendalami teknik teater, olah gerak, latihan fisik, dan latihan vokal. Tidak hanya itu, tim SPEAK juga dilatih untuk menyusun naskah teater berdasarkan kegiatan yang pernah dilakukan di masyarakat. Masalah sosial yang pada akhirnya dipilih untuk dipentaskan adalah sanitasi, yaitu masalah buang air besar (BAB) sembarangan.

 

Meski mengangkat masalah sosial, tujuan teater rakyat bukanlah memberi solusi melalui pementasan. Peserta teater rakyat difasilitasi untuk merefleksikan masalah yang terjadi untuk mengembangkan suatu kesadaran sosial, baik bagi peserta maupun penonton. Diharapkan setelah pementasan teater rakyat, akan terjadi sebuah diskusi dalam masyarakat untuk memecahkan masalah tersebut.

 

Banyak hal-hal baru dan berkesan yang didapat oleh tim SPEAK selama lokalatih ini. Menurut Dayat, staf Media dan Komunikasi SPEAK, teater rakyat sangatlah menarik karena berbeda dengan teater yang selama ini dikenal orang. Dalam teater rakyat, nilai estetika justru tidak terlalu diunggulkan. Yang lebih penting adalah bagaimana caranya kita mendampingi isu di wilayah tersebut, melakukan riset permasalahan, dan memfasilitasi masyarakat untuk merefleksikannya dalam bentuk teater. Selama lokalatih ini, Dayat juga mendapati bahwa ada banyak ide dan gagasan baru yang keluar dari anggota tim SPEAK lainnya ketika mereka dibebaskan untuk mengekspresikan diri.

 

Dias, staf Research and Development setuju bahwa teater rakyat sangat menarik dan menghibur, terutama untuk advokasi WASH. Bagi Dias, pengalaman langsung bermain peran dalam teater merupakan bekal yang sangat penting ke depannya, karena pendamping teater rakyat harus berperan sekaligus sebagai Actor, Teacher, Organizer, dan Researcher (ATOR). Menguasai empat fungsi ini juga bukanlah tugas yang mudah karena banyak hal-hal yang harus dipelajari dan diperhatikan. Seperti kata Presta, staf Community Development, kepekaan terhadap budaya lokal sangatlah penting. Masalah yang diangkat dalam teater rakyat biasanya adalah isu sensitif. Bila tidak hati-hati, pementasan dapat menyinggung orang-orang yang hadir dan justru membuat konflik baru di masyarakat.

 

Selain teater rakyat, tim SPEAK juga dilatih untuk membuat media rakyat lain yaitu cerita bergambar (cergam), poster masalah, dan jurnalistik kampung. Meski berbeda bentuk, media tersebut memiliki kesamaan yaitu melibatkan masyarakat lokal secara aktif dan membangkitkan kesadaran sosial untuk memecahkan masalah yang terjadi di masyarakat.